Kamis, 01 Desember 2016

Memulai Usaha Pertama di Surabaya


Surabaya, merupakan kota yang penuh keanekaragaman masyarakat yang tinggal di dalamnya. Tidak terasa sudah 3 bulan lebih saya tinggal di kota ini. Semenjak saya dirujuk sebagai salah satu pimpinan perusahaan cabang di Surabaya, sehari harinya saya lebih sering menghabiskan waktu di kantor untuk mengurus tugas baru yang diberikan ke saya. Maka tak heran, selama 3 bulan berselang sedikit sekali yang saya ketahui tentang kota ini., terutama masalah jalan. Jalan yang saya tau hanya sebatas kossan - kantor dan sebaliknya. 

Bosan dengan rutinitas harian tersebut, saya berusaha mencari tau dalam dari kota Surabaya ini. Ternyata kota Surabaya sebagian besar hampir mirip dengan kota Jakarta, kota ini juga menjadi salah satu tujuan dari para pendatang luar kota khususnya dari Jawa Timur untuk mencoba peruntungannya mencari karir atau usaha. Disini saya melihat, banyaknya peluang usaha yang ternyata bisa dijalankan di Kota Pahlawan ini. Salah satunya adalah usaha kuliner, kuliner di kota Surabaya sangatlah beragam macamnya.

Melihat adanya peluang tersebut, saya-pun ikut mencoba peruntungan untuk terjun kedalam dunia usaha kuliner di Surabaya. Sadar akan pekerjaan yang saya jalani saat itu, maka tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk berkontribusi menjalankan suatu usaha. Oleh karena itu saya memutuskan untuk mencari partner usaha dalam mewujudkan keinginan saya tersebut, usaha warung makan saya putuskan untuk menjadi usaha kuliner pertama di Kota Surabaya.

Pertama kali saya membuka usaha kuliner tersebut adalah di daerah Benowo Kota Surabaya, saya memilih lokasi tersebut karena lokasi bangunannya strategis dan berada di kawasan padat penduduk. Segmen pasar yang saya tuju adalah masyarakat daerah tersebut.  Warung kuliner yang pertama kali saya dirikan bertemakan "Penyetan Surabaya" . Warung ini berkonsep menjual aneka penyetan dan nasi campur, dan di dijalankan oleh partner usaha saya. Sebulan berjalan, analisa pasar saya terbukti, saya melihat warung ini sangat berpotensi, warung ini mampu menghasilkan omset kotor rata-rata Rp 400rb rupiah tiap harinya.

Melihat potensi tersebut tiga bulan berselang saya memiliki ambisi untuk membuka usaha warung di wilayah Surabaya lainnya, kemudian daerah Ketintang Surabaya yang saya pilih untuk membuka cabang baru. Berlokasi strategis di depan kampus UNESA Surabaya, kali ini saya mengambil segmen pasar mahasiswa dan masyrakat sekitar kampus. Konsep warung kedua yang saya buat ini adalah warung soto dan lontong kikil, hal ini memang sengaja dibuat berbeda dari warung pertama saya, karena saya ingin meriset tingkat kepuasan konsumen, yakni masyarakat Surabaya tentang beberapa jenis makanan di warung saya. Alhamdulillah ternyata apa yang saya harapkan menjadi kenyataan, warung ini perharinya bisa menghasilkan penghasilan kotor rata-rata Rp 500rb perharinya.

Kemudian, ambisi saya masih terus berlanjut,, melihat 2 potensi warung yang saya bangun, beberapa bulan berselang, dengan uang yang berhasil saya kumpulkan, ditambah dari penghasilan saya dari kerja di perusahaan saat itu, saya memutuskan untuk membuka 2 cabang baru di wilayah lainnya di Kota Surabaya, daerah yang saya pilih kala itu adalah Kutisari dan Wonocolo Surabaya. Saya sangat berharap 2 cabang baru ini dapat memiliki peruntungan yang sama dengan yang lainnya. Saya memutuskan untuk membuka cabang atas konsep "penyetan" kala itu.

Ternyata dua cabang baru yang saya buka, kurang memiliki nasib baik seperti yang saya harapkan. Identik jauh lebih sepi dengan omset rata-rata maksimal 200rb per harinya. Dengan angka tersebut, saya sadar itu tidak cukup menutupi kebutuhan operasional dan bahan baku warung, terlebih biaya rental ruko di lokasi Wonocolo, itu bisa dibilang tergolong tinggi. Warung baru yang saya Akhirnya, keuntungan dari warung saya lainnya digunakan untuk subsitusi dari dua warung baru yang saya dirikan.

Berjalannya waktu, banyak masalah-masalah yang saya hadapi atas usaha warung tersebut, namun demikian saya tidak gentar dalam menghadapinya dan saya anggap sebagai resiko bisnis yang harus saya hadapi. 3 bulan berselang, saya putuskan untuk menutup dua warung saya buka, yaitu warung penyetan Wonocolo dan Kutisari Surabaya. Kemudian saya putuskan untuk membuka warung Bakso di wilayah Beringin Surabaya, dan warung penyetan di wilayah Jl. Cimanuk Surabaya. Kali ini saya lebih santai dalam menjalaninya, terlebih warung yang ada di Jl. Cimanuk, itu berlokasi dekat dengan kantor saya bekerja., sehingga saya sering menyempatkan waktu untuk mengkontrol nya sambil makan siang disana. 

Permasalahan - permasalahan tersebut membuat saya belajar, bahwa tidak selamanya bisnis yang kita harapkan bisa berjalan sesuai dengan harapan, dan untung rugi dalam suatu usaha itu adalah hal yang biasa, permasalahannya adalah apakah kita mau bangkit kembali setelah kita jatuh atau tidak. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Salam,

Memulai Usaha Pertama di Surabaya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: irwan hernawan

0 komentar:

Posting Komentar